STIKI Malang – Maraknya aksi pelecehan seksualitas terhadap anak menjadi sorotan beberapa tahun terakhir sehingga menimbulkan keprihatinan dari berbagai kalangan. Untuk itulah Game Logika Fuzzi dibuat oleh 3 Dosen STIKI Malang yakni Meivi Kartikasari S.Kom, M.T. (Kepala PPTIK), Chaulina Alfianti Oktavia S.Kom., M.T. (Koordinator Ebelajar), dan Rakhmad Maulidi  M.Kom. (Kaprodi TI).

3 Dosen ini lantas berpikir bahwa Diperlukan suatu metode untuk memberikan edukasi kepada anak usia dini agar mengenal pendidikan seksualitas sejak dini. Salah satu contoh bentuk penyampaian pendidikan seksual kepada anak-anak adalah melalui media visual. Media visual yang disampaikan dalam penelitian ini adalah dalam bentuk media game logika berbasis edukasi.

“Pada penelitian kami berjudul Pengembangan Permainan edukasi Menggunakan Logika Fuzzy Untuk Anak Usia Dini ini didesain agar memudahkan anak-anak memahami tentang pelecehan seksual dan mengantisipasi terjadinya pelecehan tersebut.” Tukas Chaulina dihubungi melalui jaringan pribadinya.

Terhitung mulai April 2018 hingga September 2018, Chaulina dan timnya merampungkan game logika yang menggunakan metode fuzzy logic berbasis mobile ini. Penelitian ini juga dibiayai oleh Kemenristekdikti di tahun yang sama untuk pengembangannya.

“Untuk pengujiannya sendiri dilakukan berdasarkan pengujian fungsionalitas game, konten edukatif pada game serta pengujian dampak game terhadap responden.” Terang dosen yang juga Koordinator E-Learning ini.

Lebih lanjut, penelitian ini dapat dikembangkan kearah sosial dan psikologi untuk mendukung analisa mengenai dampak permainan edukasi anti pelecehan seksual pada anak dari segi sosial, sikap dan perilaku anak tersebut. Karena keterbatasan waktu, pada penelitian ini menitikberatkan pada bagaimana mengembangkan permainan edukasi anak untuk pendidikan anti pelecehan seksual.

“Persiapan dalam melakukan penelitian melakukan survey, analisa,tahap desain, pembuatan, penerapan. Selanjutnya kita lakukan Merancang konsep permainan, menentukan role game play dan melakukan uji coba.” Tandasnya.

Memang tidak mudah dalam melakukan ujicoba game ini, karena perlu dilakukan beberapa percobaan agar player dapat dengan mudah melakukan permainan. Ia dan timnya berharap game ini dapat digunakan sebagai sarana edukasi untuk mengihindari adanya kekerasan maupun pelecehan seksual pada anak usia dini. Selain itu ia juga ingin agar masyarakat luas bisa segera merasakan manfaat dari adanya game ini. (Humas / Irma)